Sunday, February 18, 2007

Pilihan

Layaknya makhluk hidup setiap hari...bahkan setiap saat, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Nggak semuanya mudah untuk diputuskan.
Aku sudah dibekali 'rule of thumb' untuk memilih. Yaitu untuk hal-hal tertentu, biasanya untuk pilihan salah dan benar, pilihlah pilihan yang sulit untuk dilakukan. Karena biasanya hal yang salah lebih mudah dan menyenangkan untuk dilakukan.
Misalnya, antara pilihan nyontek atau belajar. Jelas pilihan yang benar adalah belajar, walau nyontek mungkin jalan singkat yang lebih mudah. Rule of thumb itu aku perlukan karena kadang aku hanya mau melakukan yang menyenangkan saja, aku perlu sering diingatkan bahwa bagaimanapun yang benar yang harus dipilih.
*Tentunya bukan berarti kalau sedang berjalan kita jalan lewat hutan rimba penuh semak belukar yang kita pilih, bukannya lewat jalan raya mulus. Ya...pikir sendirilah, buat nempatinnya!*

Tetapi kadang tahu saja, tidaklah cukup. Perlu nyali dan tekad yang kuat untuk memilih yang benar. Mengingat yang salah itu begitu mudah dan lebih menyenangkan untuk dilakukan.




Seperti yang seharian ini harus aku perjuangkan.
Alhamdulillaah.... aku masih lumayan kuat
*smile*
Semoga akan begitu terus adanya.
Bahkan bertambah kuat

Tuesday, February 13, 2007

kopi dan donat

Pagi ini aku sarapan dengan dua potong donat dan secangkir kopi hangat.
Di ruang kerjaku. Sambil memandangi hujan yang membasahi pohon-pohon dan danau dari jendela di sampingku.

Nikmat banget.

Donat kampung yang kubeli seharga lima ratus rupiah dan kopi dari sesachet cappucino yang harganya juga lima ratusan.
*Satu potong donat di J.Co –yang glazzy sekalipun- nggak akan terbeli dengan total harga sarapanku*



gambar dari sini

Thursday, February 01, 2007

Nonton film

Beberapa bulan terakhir ini, nonton film adalah satu hal yang banyak aku lakukan untuk mengisi waktu di rumah. Kalau dulu paling seminggu sekali, sekarang bisa ... eh... lebih sering dan banyaklah! (Malu. Soalnya kalau lagi super iseng bisa parah).
Kenapa? Karena dulu buat nonton film, aku harus menyewa, tapi sekarang aku tinggal serumah dengan seorang movie freak yang seluruh koleksi filmnya mungkin baru akan bisa habis aku tonton dalam waktu satu -dua bulan...tanpa henti.
Selain itu, ada teman kuliahku, yang sekarang sedang menyukai film Korea, yang rajin menawariku pinjaman film-filmnya lengkap dengan uraian resensi versi dia sendiri.

Dulu aku juga suka nonton film, tapi pilih-pilih banget. Karena menurutku menonton film adalah kegiatan refreshing, maka aku lebih suka nonton film yang ringan, happy end dan yang membuatku terinspirasi. Aku suka film drama romantis (perempuan bangeeet!), tapi aku nggak suka yang sad end atau film menguras emosi. Bikin capek dan kepikiran.
Aku nggak suka film laga, horor, pembunuhan apa lagi...nyari stres aja! Selain itu aku suka film yang gambarnya bagus, cerah.. (kayak film-film Ang Lee, Happy Feet, untuk Indonesia, Vina bilang Cinta :D ) sampai kadang nggak merhatiin ceritanya hehehe...
Kalau moodku sedang bagus, baru aku mau nonton film yang agak-agak mikir, tapi tetap kalau bisa menghindar dari film-film yang suasananya suram (bikin mata capek).


Cuma sekarang, dari banyak-banyak nonton film itu, lama-lama aku bisa tahan dengan film penuh gejolak emosi, sad end dan keberadaan tokoh antagonis tanpa jadi terbawa-bawa. Sekarang, begitu si antagonis memulai taktik jahat atau si protagonis akan bertindak bodoh, maka akan ada yang berteriak di pikiranku,
"Ya emang begitu. Kalau nggak begitu, nggak bakal jadi film, cerita bakal datar aja"
atau
"Liat aja, nanti juga ada penyelesaiannya"
Soal sad end,
"Mungkin sad end. Tapi sadar nggak, kalau sebenarnya memang ending seperti itulah yang terbaik buat semua"
(ehm...agak-agak dibawa serius ya?)
Terlepas dari masalah bahwa ending satu film bisa dibilang sad end oleh satu orang dan happy end oleh orang lain.

Dan itu, terbawa ke dunia nyata. Membuatku cukup santai menghadapi (hampir) semua hal yang harus terjadi.


Manfaat banyak nonton film:
  1. Jadi tahu kalau dikejar penjahat dalam rumah, jangan naik ke lantai atas (lha, wong kontrakanku cuma satu lantai je...)
  2. Upgrade bahasa Inggris, asal nonton jangan pakai subtitle Indonesia (Melayu apalagi!)
  3. Bisa jadi pelampiasan emosi, kalau sedang bete tapi nggak bisa nangis nonton aja film yang sedih-sedih, habis itu lega (ingat jangan nonton sinetron, atau film Indonesia kacangan, karena justru bikin kita marah-marah atau kebalikannya sakit perut kebanyakan ketawa)
  4. Tambahan koleksi quote (?) (favoritku: "Jadi ini salah gue? Salah temen-temen gue?" AADC, atau "You...completed me" Jerry Maguire)
  5. Bisa lihat model -model baju (Baju -baju Rory -Gilmore Girl-, jaket-jaketnya Irwansyah :p -Heart-)

Thursday, January 25, 2007

Aku, teman-teman dan dunia

dari sini
Pernah nggak merasa gini: sedang menghadapi kehilangan yang besar atau menghadapi masalah yang pelik banget dan semua terasa kacau balau.

Tapi waktu kita keluar rumah, kita merasa asing karena ternyata dunia tetap berjalan seperti biasa. Dan tidak ada yang berubah karena masalah yang kita hadapi.

Sadarlah kita kalau ternyata ada jarak antara dunia kita dengan dunia luar, kalau ternyata orang-orang memang hidup dalam dunianya sendiri-sendiri.
Dan kadang tidak peduli (atau mungkin tidak tahu ) dengan apa yang kita alami

Critanya,

Semalam waktu aku sedang membuat draft revisi proposalku (yang lagi-lagi dikembalikan dengan koreksi di sana-sini), ada sms masuk dari satu temanku. Minta didoain (n kalau sempat nengok) karena putra pertamanya masuk rumah sakit terkena DBD dan tifus.

Tau-tau rasanya seperti ada sebagian dari energiku yang terserap oleh sms itu.
Karena aku merasa betapa jauh duniaku dan dunianya (padahal beberapa tahun lalu kita teman sekamar).
Bukan cuma karena dia yang sudah punya 2 anak dan aku yang belum ada tanda-tanda ke arah itu, tapi bahkan untuk malam itu saja kondisi yang kita alami begitu berbeda. Dia di kamar rawat rumah sakit, cemas, capek tapi nggak bisa tidur dibanding aku di kamar, nyaman dan nyaris tanpa beban.
Tak peduli walaupun aku dan dia selama ini masih rajin berkomunikasi buat meng-update kondisi masing-masing, tetap saja dunia kita terasa tidak terhubung. Apalagi untuk teman-temanku yang lain yang jarang kutau kabarnya.

Agak iseng. Kemudian aku meng-sms 5 orang temanku yang dulunya cukup dekat, tapi lama tak kutau kabarnya. Cuma bilang:

"Apa kabar? Lama nggak masuk acara infotainment. Baik-baik aja kan?"
Tanpa nama.

Hasilnya: ada 3 sms balasan, 1 tidak masuk dan 1 tidak dibalas.

Dari 3 sms yang masuk:

Orang pertama:
"Alhamdulillaah, ya begini, lagi menata hati yang rusak. Metri pakabar?"
(kenapa? aku cuma berani berkomentar tanpa berani bertanya kenapa. Kalo mau cerita, ia bakal cerita)

Orang kedua:
"Iya ni, kangen lab. Di sini capek, aku lagi di Surabaya sekarang. Metri pakabar? Ada gosip nggak di lab?"
(hehehe... tetep, yang ditanyain gosip. Bekerja sebagai auditor di kantor audit ternama, memang sudah berarti penyitaan waktu dan energi dalam proporsi yang besar)

Orang ketiga:
"Ini siapa, ya?"
(Haaa.... ??!! Bahkan setelah aku balas dengan menyebutkan namakupun, dia tetap salah orang)

"Maaf, aku baru migrasi ke halo jadi banyak nomor yang ilang. Ini metri teman sma, kan?"
(waaaaaa..... dua kemungkinan: nomorku nggak ikut termasuk nomor yang di-save ke hp sebelum ganti sim card atau dia maen ngasih simcard lama gitu aja? Teman SMA??!)

Orang keempat (yang nggak balas sms), siangnya menelpon ke hpku.
"Ini nomor siapa ya?"
(waaaaaa... lagi-lagi ! Sewaktu aku protes)

"Aku simpan nomormu kok, cuma beda nih, sama nomor kamu sekarang. Yang sekarang depannya pake +62 ...."
(rotflol)

Maaf, ya teman-teman kalo tidak berkenan kata-katanya aku jadiin tulisan begini.
Karena aku cuma sedang menyadarkan diri-sendiri, kalo kita, manusia memang hidup sendiri cuma kadang jalan kita saling bersinggungan atau berpotongan di titik-titik tertentu. Dan aku lagi pingin memperbanyak titik-titik potong itu, mungkin komunikasi bisa sedikit menolong.

Yang jelas aku juga mesti, mengevaluasi ulang caraku berteman, biar orang-orang nggak sakit hati sama aku sampai menghapus nomorku dari memory mereka.

Tuesday, January 23, 2007

Indonesia kenapa, ya?

dari sini

Sedih deh, baca tulisan ini.
Apalagi pas dibanding-bandingin ama negara lain.

(perbandingan yang apple to apple gak sih sebenarnya?)
Walau kenyataannya kondisi negara kita emang lagi parah................






==================================
January 11, 2007


INDONESIA: NATURAL DISASTERS OR MASS MURDER?

By Andre Vltchek

Another day, another unnecessary loss of lives: 16 people killed and 16
still missing in floods and landslides on a small island Tahuna off
Indonesia's Sulawesi.

At an alarming rate, Indonesia is replacing Bangladesh and India as the
most disaster-prone nation on earth. Whenever the word Indonesia appears
on the list of headlines on Yahoo news, chances are that another
enormous and unnecessary tragedy occurred on one of the islands of this
sprawling archipelago.

Airplanes are disappearing or sliding off the runways, ferries are
sinking or simply decomposing on the high seas, trains crash or get
derailed at average rate of one per week, illegal passengers falling
through the rusty roofs. Illegal garbage dumps bury under its stinking
content desperate communities of scavengers. Landslides are taking
carton-like houses to the ravines; earthquakes and tidal waves are
destroying coastal cities and villages. Forest fires from Sumatra are
choking huge area of Southeast Asia.

The scope of disasters is unprecedented and it is absurd to discount
them simply as nation's bad luck or as the wrath of gods or the nature.
Corruption, incompetence and simple indifference of ruling elites and
government officials are mostly to blame. It is poverty, lack of public
projects and kleptomania that kills hundreds of thousands of desperate
Indonesian men, women and children.

Since 1965 US-sponsored military coup that deposed Sukarno, installing
a military regime of staunch anti-communist and corrupt pro-market
dictator Suharto, Indonesia escapes serious scrutiny by the western
media and governments. After Suharto stepped down in 1998, it is being
hailed by mass media as emerging and increasingly tolerant democracy.

Some of these disasters are man-made; almost all of them are
preventable. At closer scrutiny it becomes obvious that people die due
to almost non-existent prevention, lack of education (Indonesia has the
third lowest spending on education as percentage of its GDP, after
Equatorial Guinea and Ecuador) and savage pro-market economic system
which allows enrichment of very few at the expense of the majority which lives under 2 dollars a
day.
Conclusions can be terrifying casting light on the way the present-day
Indonesian society functions. However, to avoid this exposure would
doubtlessly lead to further loss of precious lives of hundreds of
thousands of people.

Indonesia is profit-driven to the extreme. It is also one of the most
corrupt nations on the face of the earth. And there seems to be no
immediate profit to be made from implementing preventive measures. Dams
and anti-tsunami walls are almost everywhere considered to be public
works and exactly this word - public - had almost disappeared from the
lexicon of those who make decisions in Indonesia. Short-term profit for
particular group of individuals is given much higher priority than
long-term gains for the entire nation. Moral collapse of the nation is
reflected in the scale of values: corrupt but rich individuals command
incomparably higher respect than those who are honest but poor.

Ferries are sinking not "because of high winds and waves"; they sink
because they are overcrowded and badly maintained, or more precisely
because they are allowed to be overcrowded and badly maintained.
Everything is for sale, even the safety of thousands of passengers.
Companies care only about their profits, while government inspectors are
mainly interested in bribes.
Recent well publicized sinking of Senopati Nusantara killed hundreds of
people, but it was just one of hundreds of maritime disasters that occur
in Indonesia each year. While there are no exact statistics available
(for predictable reasons, Indonesian government makes sure to avoid
publishing comprehensive comparative statistics), some maritime routes
lose 3 or more vessels a year.
Indonesian airline industry has one of the worst safety records in the
world. Since 1997, at least 666 people died in 8 major separate airplane
crashes in Indonesia. Some of the pilots are so badly trained that
planes often skip off the runway, miss runway altogether or land in the
middle of it. Maintenance is another issue: flaps often don't function
properly, wheels cannot get in after take-off, seldom changed tires have
tendency to blow up upon touch down. It is a mystery how do some
airplanes - particularly old Boeings 737s flown by almost all Indonesian airlines -
make it through the inspections.

After consulting with local civil aviation officials (who obviously do
not want to be identified), your correspondent learned that the
navigation systems at several major Indonesian airports are in
disastrous state, particularly those at Makassar in Sulawesi and Medan
in Sumatra.

On average, there is one deadly train accident every six days in
Indonesia, many caused by the lack of gates at its 8.000 level
crossings. In comparison Malaysia had no fatal accident for 13 years up
to 2005 (last year for which statistics are available).

Despite the fact that Indonesia has relatively small number of cars per
capita, its roads are the "most used" of any networks in the world
(second only to Hong Kong which is not a country): 5.7 million
vehicle-km per year of road network (2003, The Economist World in
Figures, 2007 Edition).
Despite this epic congestion and generally slow pace of traffic, 80
plus people die on average every day on Indonesian road, mostly due to
the terrible state of the infrastructure and poor law-enforcement,
according to The Financial Times.

Earthquakes alone do not kill people. Poor construction of houses and
buildings are the culprits, together with the lack of preventive
measures and preventive education. It is well known fact that Indonesia
is prone to natural disasters; that it is located on so called ring of
fire. But the poor can count on no massive public housing projects (like
those in neighboring Malaysia), which could withstand earthquakes.
Almost each family is on its own: it has to design and build its own
dwelling.
Major earthquakes kill hundreds, sometimes thousands of people, leaving
hundreds of thousand homeless. At least 5.800 people died and 36.000
were injured on May 27, 2006 during 6.3-magnitute earthquake which hit
central Java near historic city of Yogyakarta. Primitive infrastructure,
inadequate medical facilities and corruption in distribution of aid are
to blame for unacceptably high number of casualties after each major
tremor.

Illegal logging and deforestation are the main reasons for the
landslides. It is well known who is responsible for the forest fires in
Sumatra and elsewhere, but officials are reluctant to make arrests, as
those responsible for de-forestation are often rich and well connected
in the country where even justice is for sale. There are countless
solutions to this problem, including law-enforcement, inspections and
attempt to provide alternative means for livelihood to those communities
that are so desperate that they are literally forced to participate in
digging their own graves by destroying environment that is in return
annihilating entire communities. But almost nothing is done, as illegal
logging is huge and lucrative business that can grease hundreds of
willing palms.

Last month, dozens of people were killed in landslides and flush floods
in north of Sumatra Island, which forced some 400.000 people to flee
their homes. In June 2006, floods and landslides triggered by heavy
rains killed more than 200 people in south Sulawesi province.

Tidal wave, known as tsunami, killed more than 126.000 people in Aceh
province in December 2004. Not only was response of Indonesian
government and military forces inexcusably slow and inadequate, large
part of massive foreign aid disappeared in corruption. Instead of
helping victims, many members of Indonesian military were extorting
bribes from relief agencies and destroying precious supplies or drinking
water and food in case that bribes were not paid. In a scandalous
land-grab sponsored by the government, many victims were prevented from
returning to their own land while children were forcefully separated
from their parents (who lost birth certificates during the tragedy) and
"adopted" by religious organizations; some falling victims to human
trafficking. More than two years after this devastating tragedy,
hundreds of thousands are living in temporary housing.

Many victims of yet another tsunami, which hit the coast of southern
Java in July 17, 2006, are still waiting for any substantial help. At
official count, 600 people died, but the real number was almost
certainly much higher. Indonesian officials received early warning from
Japan but refused to act, later claiming that there was not much they
could do, as the
Area was not equipped with the sirens or loudspeakers.

Indonesia often suffers from some man-made disasters beyond any
comprehension and comparison. Recent "mud flood" inundated entire
villages right outside Surabaya. It occurred due to inadequate safety
procedures of a gas exploration company (co-owned by one of the cabinet
ministers). This "accident" displaced more than 10.000 people, covering
over 1.000 acres of land with hot mud, destroying the only motorway of
Surabaya as well as the major railway line. Garbage buried entire
communities of poor scavengers at illegal dumping site outside Bandung. There are many more
cases of similar nature, but complete list would require too much space
- probably entire book dedicated to the subject.

The question is when will Indonesian people say that enough is enough
and when will they demand accountability and justice, exact statistics
and concrete blueprint for solutions? In almost any other country, two
recent disasters - grizzly sinking of Senopati Nusantara and
"disappearance" of Adam Air Boeing 737 with 102 people on board - would
be more than enough to force cabinet ministers to resign. In Indonesia,
these tragedies are seen (or presented) as yet another misfortune
without holding anyone responsible or accountable.

Indonesian press and mass media are reporting each and every disaster
in details. But they are failing to establish that what is happening
there is extraordinary and intolerable, that there is probably no other
major country in the world that is experiencing such unnecessary and
devastating loss of human lives due to disasters that are either
man-made or easily preventable.

To link enormous number of lost human lives in countless disasters with
corruption and socio-economic system is determinately discouraged.
Jakarta Post, leading daily newspaper in Indonesia, recently suppressed
this commentary, refusing to publish it on its pages.

Since December 2004, Indonesia has lost around 200 thousand people in
various disasters, not counting car accidents and military conflicts
ranging all over its archipelago. That's more than Iraq lost in the same
period of time, more than Sri Lanka or Peru lost during their long civil
wars. Indeed, many Indonesians are experiencing life, which is as
dangerous and hazardous as that in the war-torn parts of the world. Most
of them don't realize it, as comparative statistics are not available or
are suppressed.

Indonesia is poor, but it is still in the position to protect some of
its most vulnerable citizens. The main problem is that there is no
political will. There is plenty of concrete and bricks to build dams and
walls against tsunamis, to reinforce the hills around the towns, which
are in danger of being buried by the landslides. One just has to look
around Jakarta where dozens of unnecessary new shopping malls are
growing in several locations, where kitschy palaces of corrupt officials
cover acres of land.

Unwillingness to deal with the problems has roots mostly in corruption.
Local companies and officials developed unique ability to make profits
from everything, even from disasters and from the suffering of millions
of fellow citizens. In simplified terms, corruption is stealing from the
public. But when the toll has to be calculated in hundreds of thousands
of lost human lives, it becomes mass murder.

Andre Vltchek: novelist, journalist and filmmaker, co-founder of
Mainstay Press (www.mainstaypress. org), senior Fellow at Oakland
Institute (www.oaklandinstitut e.org). He presently resides and works in
Southeast Asia and South Pacific and can be reached at:
andre-wcn@usa. net

Monday, December 11, 2006

katanya..katanya....

*pingiiiiiiiiiiiin!*

"Katanya 3G nggak akan laku dan sebentar lagi nggak kepakai, karena akan ada teknologi baru lagi", kata seseorang padaku, suatu ketika,"Liat aja, kemarin-kemarin MMS kan nggak laku".

Aku yang tadinya cuma manggut-manggut karena nggak tau arah obrolannya jadi bengong.
Kayaknya sekarang aku tau deh, maksud omongannya.
Jadi buat meyakinkan diri-sendiri, aku jadi browsing-browsing apa itu 3G sebenarnya. Dan ketemu orang ini yang sepertinya tahu apa yang aku rasakan.
Moga-moga yang bersangkutan rela tulisannya aku link di sini, soalnya mau minta ijin langsung, mesti login dulu...males

price, pride, prestige…...

dari sini

Menonton final ganda putra bulu tangkis ASIAN Games 2006, malam minggu kemarin benar-benar membuat aku kecewa.
Pertama, memang karena Indonesia (
Alvent Yulianto/Luluk Hadiyanto) kalah, straight set dan yang mengalahkan adalah musuh bebuyutan kita di bulu tangkis, Malaysia.
Tapi ya, emang
Alvent Yulianto/Luluk Hadiyanto mainnya nggak bagus, atau mungkin lawannya emang lagi main bagus. Aku nggak tahu, -harap maklum udah lama nggak mengikuti perkembangan bulu tangkis sekarang-, biasanya mereka mainnya gimana. Tapi ya, menyedihkanlah…dan bukan pertandingan yang penuh perlawanan sengit yang membuatnya enak untuk ditonton.
Tetapi yang lebih menyedihkan…mengecewakan buatku adalah karena pelatih tim Malaysia adalah Rexy Mainaky…..
Aku tu nggak ngerti ya, apa aku yang terlalu naïf mengartikan nasionalitas. Bahwa menurutku nasionalitas nggak terbeli dengan apapun (price, pride, prestige…)?
Atau apa aku yang terlalu sempit mengartikan kalo seseorang -yang sudah sering mewakili Indonesia- melatih tim negara lain (Malaysia!!!!!) dan ‘kebetulan’ di final ketemu negaranya sendiri dan bisa mengalahkannya itu artinya ia sudah kehilangan nasionalitasnya?
Nggak tau juga apa rasa kecewa campur kesal ini karena yang mengalahkan adalah Malaysia?


Trivia (-trivian):

  1. Walaupun banyak yang menentang, tetapi mulai pertengahan 2006, bulu tangkis memakai cara penghitungan nilai baru , dari semula 15 x 3, sekarang menjadi 21 x 3 dengan sistem relly point. Bagi pemain yang lama panasnya sistem ini jelas merugikan, -kalo dulu tu model Susi Susanti gitu- karena pas dia udah benar-benar siap, ternyata nilainya sudah ketinggalan jauh. Alasan IBF : agar waktu pertandingan lebih bisa diprediksi (jadi TV-TV nggak be-te?), agar kesenjangan nilai tidak terlalu jauh dan tidak akan ada yang mendapat nilai nol. Dan agar lebih banyak iklan masuk?
  2. Saat ini, peringkat satu dunia untuk tunggal putra adalah Lin Dan dari China, yang pada final tunggal putra perseorangan Asian Games 2006 ini dikalahkan Taufik Hidayat. Sementara Taufik Hidayat berada di peringkat 8 dunia. Dari keseluruhan kategori hanya ganda putra Alvent Yulianto/Luluk Hadiyanto wakil Indonesia yang berada dalam 2 besar. Koo Kien Keat/Tan Boon Heong yang mengalahkan mereka berada di peringkat 8 dunia.
  3. Prestasi pemain putri memang sudah parah sejak lama. Dan saat ini tidak ada yang masuk peringkat 20 besar sekalipun. Untuk tunggal putri Indonesia, peringkat paling tinggi adalah Firdasari Adrianti berada di peringkat 48 dunia. Untuk ganda putri, ada yang menduduki peringkat 21 dunia Novita dan Nurlita (siapa mereka? Aku juga baru tahu nama mereka saja :p). Untuk ganda campuran, cukup lumayan ada Nova Widianto/Lilyana Natsir di peringkat 5 dunia/
  4. Januari 2006, Rexy Mainaky (ternyata) sudah menjadi pelatih Malaysia (sebelumnya menjadi Pelatih Bulu Tangkis di Inggris) dan di Kejuaraan All England, pemain-pemainnya sudah mulai mengalahkan pemain Indonesia, -aku baru tau…..-

Sumber: dari sini

Wednesday, November 22, 2006

radio...o..o..radio....

gambar dari sini

Tau nggak bedanya radio bagus ama radio nggak bagus?

Radio bagus, kebanyakan muter lagu (bagus-bagus sih lagunya), jadi nunggu-nunggu kapan penyiarnya ngomong.
Radio je...eh nggak bagus, penyiarnya kebanyakan ngomong padahal, maap-maap, omongannya garing banget, jadi nunggu-nunggu kapan muter lagu

Wednesday, November 15, 2006

free as a bird

gambar dari sini
dekanat lantai 3, nunggu orang belum ada yang datang

free·dom

n.

1. The condition of being free of restraints.

2. Liberty of the person from slavery, detention, or oppression.

3. a. Political independence.

b. Exemption from the arbitrary exercise of authority in the performance of a specific action; civil liberty: freedom of assembly.

4. Exemption from an unpleasant or onerous condition: freedom from want.

5. The capacity to exercise choice; free will: We have the freedom to do as we please all afternoon.

sumber dikutip dari sini

Kebebasan adalah kondisi bebas tekanan, kapasitas untuk melakukan pilihan, free will.

Setuju banget. Kebebasan adalah kemerdekaan untuk menentukan pilihan, tetapi bukan berarti lepas dari tanggung jawab. Karena justru saat kita diberi kebebasan hampir seluruh tanggung jawab hidup kita akan ada dalam beban kita. Juga resikonya.

Hanya saja kita bebas untuk memilih apakah kita mau makan di warteg atau di resto mahal, apakah kita mau nyuci baju sekarang atau besok, mau jalan sama si Jahe atau Kencur, mau masak atau malas-malasan….

Sejauh ini sudah ada tiga caraku dalam menikmati kebebasan.

Saat-saat awal aku merasa mendapat kebebasan, saat itu kebebasan itu seperti kebebasan seekor burung yang dilepas dari sangkarnya. Menyenangkan dan membingungkan. Memungkinkan aku bereksperimen dengan cara hidupku. Dan membentuk sisi lainku yang baru. Hanya saja saat kembali ke sangkar aku masih kembali ke sisi lamaku.

Bertahun kemudian kadang kebebasan kurasakan seperti boomerang. Karena aku mulai bosan dan lelah untuk terus-terusan harus menentukan pilihan sepanjang hidupku. Jadi setiap kali jika memungkinkan aku akan meminta seseorang membuat pilihan untukku, heheheh…..

Pada tahap ini pula aku begitu menikmati setiap kali ada orang-orang yang marah padaku. *jangan-jangan jablai…upsssssssss!*

Sampai sekarang saat kebebasan sudah menjadi kebiasaaanku. Air minumku …nafasku. Jadi saat batas-batas itu terusik, rasanya sangat tidak nyaman. Siapa kamu? Apa hak kamu nyuruh-nyuruh aku begini dan begitu?

Sampai semingguan ini tau-tau ada sepotong lirik lagu lama yang berlalu lalang di pikiranku

“….bahagia meski mungkin tak sebebas merpati” *I bet you know who sang this song*

Kebahagiaan seperti apa yang bisa menukar kebebasan itu?

Thursday, November 09, 2006

scent of a woman

Aku mungkin sekarang udah mulai centil, mungkin juga pengaruh pergaulan, mungkin gara-gara waktu itu baca novel Perfume, kalo sekarang aku jadi mulai tertarik memperhatikan berbagai wewangian dan kadang ikutan pakai.

Ternyata wangi-wangian itu ada tingkatannya. *Buat yang udah tau, ya nggak usah diterusin baca. Bagi yang belum tau, ya buat sekedar tau aja. Siapa tau ada gunanya.*

Parfum itu bias digolongkan berdasarkan kadar sari wewangian dan kadar alkohol yang menjadi campurannya.

Kadar tertinggi terdapat pada parfum, karena essensnya mencapai 20 persen, asli tanpa campuran alkohol. Konon parfum yang beneran cuma bisa dipake dengan cara dioles. Mahal juga kalo harus disemprot, kali!

Eau de Perfume, setingkat di bawah parfum yang mempunyai kadar essens 15 persen dan sedikit dicampur alkohol. Keistimewaannya, aroma wewangiannya tahan lama dan kuat lebih sesuai digunakan pada malam hari.

Eau de Toilette, jenis wewangian lain yang kadar essensnya hanya berkisar 12 persen dan sebaliknya kadar alkoholnya lebih tinggi. Wewangian ini merupakan pilihan yang paling ideal untuk sehari-hari, karena aromanya ringan, tidak terlalu tajam serta awet. Eau de Cologne, jenis wewangian paling standar dan ringan meliputi aneka toilet waters termasuk tisu penyegar dan sebagainya, yang menonjolkan kesegaran alami. Hampir seluruhnya merupakan alkohol dan diberi sedikit essens. Jenis pewangi ringan ini biasa digunakan pada saat selesai mandi, untuk melembutkan kulit serta menyegarkan tubuh.

Parfum yang sama baunya tidak sama jika dipakai oleh dua orang yang berbeda. Kalau menurut novel Perfume, tiap orang punya scent sendiri-sendiri. Kalo si Jean-Baptiste Grenouille malah bisa mencium bau seorang perawan yang menurutnya seperti bau buah plum.

Jadi tiap orang akan punya wangi yang khas apapun parfum yang dipakainya. Tetapi ada yang mencoba mencocokkan jenis-jenis parfum dengan kepribadian orangnya: *terserah, boleh nggak percaya, tapi percaya juga nggak ada yang melarang*

Wanita sportif. Wanita aktif, jujur, berpendirian teguh, sering kurang sabar. Jenis ini meliputi wanita segala umur. Karena gemar di alam bebas, pewangi yang cocok adalah yang berbau tumbuh-tumbuhan liar dan terbuat dari tanaman-tanaman pewangi ringan.

Wanita periang, gesit. Suka berada di mana-mana, jenis yang menarik mudah menaruh minat pada sesuatu tetapi mudah pula mengubah pendiriannya, mudah menangkap sesuatu, tidak anti rayuan lelaki mudah memanfaatkan, kurang setia. Perkiraan tabiat ini seperti dimaksud umumnya berlaku untuk usia antara 20-45 tahun.

Mereka mempunyai gagasan-gagasan modern dan kretif, progresif, cepat bertindak. Mereka suka pewangi yang tidak biasa dan tidak kolot, tetapi tidak berat.

Wanita romantis. Pemikirannya sederhana dan tak berbelit-belit, mempunyai cita-cita yang tinggi karenanya bersifat pemaku. Kesederhanaan merupakan daya tariknya. Ia termasuk wanita muda yang polos. Mereka senang pewangi yang jelas berbau bunga yang mempunyai arti romantis, seperti: mawar, melati, lily.

Wanita pintar. Berpendirian praktis, ingin segala sesuatu harus tepat, bersifat agak pendiam, setia, dapat memegang teguh rahasia, bersedia memberikan nasehat. Dalam jenis ini termasuk wanita yang cukup dewasa dalam pemikiran. Mereka menggunakan pewangi sederhana yang memberi kesan dingin dan mempesona, tetapi berkesan agak sportif.

Wanita dewasa. Wanita jenis ini biasanya berusia sekitar 30 tahun ke atas. Dalam pergaulan sangat menjaga penampilan. Mereka cocok dengan parfum yang exotis dengan keharuman wangi-wangian dari negara tropis atau berhawa panas.

Mau beli parfum buat suami/istri, saudara, teman?

Membeli wewangian untuk orang lain bukan hal yang mudah, jadi berikut ada panduan dari webscents dan mungkin justru artinya lebih kena kalau pakai bahasa Inggris, jadi nggak aku terjemahin :

· Buying fragrance for your Wife / Partner

When buying for your wife or partner, you want to send out a romantic, sensual and loving message. Look for exotic, floral herb fragrances in the form of Eau de Perfume or Perfum. Suggestions: Thierry Mugler Angel, Gucci Rush, Dolce & Gabbana Light Blue.

· Buying fragrance for your Husband / Partner

When buying for your husband or partner, you want to send out a sensual loving message. Look for spicy, citrus and woody fragrances in the form of Eau de Toilette or Eau de Cologne. Suggestions: Joop Homme, Dolce Aftershave, Burberry Weekend.

· Buying fragrance for you Father, Grandad or Uncle

When buying for a family loved one, look for a sturdy classic fragrance that ephesises your relationship. Fragrances with essence of oak wood/moss and even tobacco, in the form of classic men’s aftershaves are often well received. Suggestions: Dolce Aftershave.

· Buying fragrance for you Mother, Grandma or Aunty

When buying for a family loved one, look for a classic feminine fragrance that reflects your feelings toward this person. Fragrances with a floral bouquet such as, rose, jasmine or lily are often firm favourites, in the form of Eau de Toilette or Eau de Perfume. Suggestions: Dolce & Gabbana Light Blue Perfume, Joop Femme Perfume.

· Buying for your Son, Grandson, Nephew

When buying for a younger member of the family or friend, citrus and oriental fragrances embody youthful, freshness and vitality. Look for Eau de Toilette or aftershaves that have been recently launched and fashionable. Suggestions: Diesel Plus Plus, Diesel Zero Plus, Lacoste Style in Play Aftershave, Burberry Weekend.

· Buying for your Daughter, Grandaughter, Niece

When buying for a younger member of the family or friend, citrus, floral fragrances embody youthful, freshness and vitality. Look for Eau de Toilette or Eau de Perfume that has been recently launched and fashionable. Suggestions: Britney Spears Curious Perfume, Diesel Plus Plus Perfume, Lacoste Touch of Pink Perfume.

Do & Don’t for Perfume

DO

  1. Gunakan parfum lebih banyak jika Anda memiliki jenis kulit kering
  2. Pilih parfum dengan aroma yang lebih kuat saat cuaca dingin. Suhu dingin mengurangi kekuatan aroma parfum.
  3. Lebih baik membeli parfum di malam hari. Saat itu indera penciuman Anda lebih tajam.
  4. Cobalah parfum pada kulit Anda sendiri. Masing-masing orang memiliki chemistry kulit yang berbeda.* hehehe…susah nih, kadang seluruh telapak tangan suka udah penuh buat nyoba berbagai macam parfum, jadi kadang minjem tangan orang juga*
  5. Gunakan parfum sesaat setelah mandi. Saat itu pori-pori terbuka dan menyerap wanginya.
  6. Simpan parfum di tempat yang kering dan dingin. Jangan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung dan dengan suhu ekstrim agar wanginya tidak berubah

DON’T

  1. Menggunakan sabun deodoran ketika Anda memakai parfum
  2. Menyemprotkan parfum di dekat mutiara atau perhiasan lain. Alkoholnya bisa merusak lapisan perhiasan.
  3. Mencoba dua atau tiga parfum bersamaan. Indera penciuman Anda bisa bingung. *baunya bikin pusing juga kaleee*
  4. Menggunakan parfum pada pakaian. Alkohol dan warna parfum bisa merusak kain

(sumber dari suara merdeka,webscents, bodyshop, dll)

Tuesday, October 17, 2006

Pulang yuukkk!

foto dari sini
Mudik..pulang kampung...pulang basamo...
artinya sama saja, pulang ke tempat asal biasanya saat menjelang Lebaran.

Dulu
Di masa kecilku, dulu yang biasa pulang kampung cuma mbak-mbak dari kampungku yang bekerja sebagai babu di Jakarta. Aku dan saudara-saudaraku biasanya menyempatkan diri mengintip mereka saat baru turun dari bis di depan rumah kami. Biasanya mereka pulang secara berombongan dengan gaya berpakaian dan cara bicara bahasa Indonesia dengan campur Jawa dengan logat Jawa yang -sumpah- norak! (Fyi, dulu orang di tempatku belum terbiasa ngomong pake bahasa Indonesia).
Jadi kesan yang tertanam di benak kita saat itu adalah pulang kampung itu norak, pulang kampung tu identik dengan babu.

Sekarang

Pulang kampung sekarang sudah jadi masalah tahunan buat negara ini
Dan sudah hampir sepuluh kali aku menjalani ritual itu.
Apa aku juga norak? Entahlah...
Apa aku nyari susah? Mungkin...
Cuma aku nggak mampu aja, buat nggak pulang.
Lebaran di Jakarta?
Mmmmm... terimakasih, deh!

Udah ah, siap-siap pulang yuk!
Siapkan tiket dan ransel pulang.
Jangan lupa siapkan oleh-oleh buat yang di rumah
Jangan lupa buku & walkman (hari geneee?!) biar nggak bengong di jalan
Jangan lupa makanan buat buka dan sahur di jalan
Jangan lupa kamera buat merekam hari-hari yang jarang kita nikmati
Jangan lupa tetap semangat ibadah ramadhannya! (sambil ngaca :p)
Sampai jumpa di rumah!

p.s
Cuma ada yang tau nggak sih? kata mudik itu asalnya dari mana?
Mudik = Mulih dilik??

Tuesday, October 10, 2006

Jenuh

Maaf, ku jenuh padamu
lama sudah kupendam
tertahan di bibir ku
---rio febrian----

bosen ....
pikiran udah nggak ada di sini.

bosen...
kok lama-lama blogku isinya tambah nggak mutu
curhat melulu
SmileyCentral.com

Friday, October 06, 2006

Good News

Indonesia Bebas dari Utang IMF

BI melunasi 3,2 miliar dolar AS sisa utang kepada IMF.
Dengan dilunasinya seluruh utang, Indonesia tidak lagi masuk dalam post monitoring program IMF. Adapun alasan mengapa BI mempercepat pelunasan utang yang semestinya baru dibayar pada 2010 mendatang itu, Burhanuddin menyebutkan salah satu di antaranya adalah kondisi makroekonomi yang terus membaik.

JAKARTA -- Indonesia dipastikan terbebas dari jeratan utang Dana Moneter Internasional (IMF) mulai pekan depan. Kepastian itu setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan melunasi seluruh sisa utang kepada lembaga donor internasional itu sebesar 3,2 miliar dolar AS, termasuk bunga.

''Dengan selesainya pembayaran ke IMF, maka Indonesia sekarang sudah pada posisi yang setara. Kita sudah menjadi anggota yang biasa, anggota yang normal, bukan anggota yang sakit,'' kata Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, di Jakarta, Kamis (5/10). Pemberitahuan pelunasan seluruh sisa utang itu, kata Burhanuddin, disampaikan ke IMF pada Kamis pagi. Diperkirakan, proses administrasi pelunasan memakan waktu lima hari. ''Sehingga, akhir pekan depan Indonesia tidak mempunyai utang lagi ke IMF,'' jelasnya.

Setidaknya ini ditunjukkan oleh prospek neraca pembayaran Indonesia pada akhir tahun yang diperkirakan mengalami surplus 13,2 miliar dolar AS. Sementara cadangan devisa bakal mencapai 43,3 miliar dolar AS di akhir tahun, karena pada akhir triwulan ketiga tahun ini saja cadangan devisa yang tersimpan di BI sudah 42,3 miliar dolar AS. ''Pembayaran itu menjadi sinyal yang baik bagi perekonomian Indonesia, sehingga kita dapat bekerja tanpa beban dan timbul kepercayaan diri, kata Burhanuddin.

Deputi Gubernur BI, Hartadi Sarwono, menjelaskan, nilai sisa utang pokok IMF yang dibayarkan sebesar 3,1 miliar dolar, ditambah satu kali pembayaran bunga, sehingga total tanggungan yang harus dibayar senilai 3,2 miliar dolar AS. ''Ini sudah menjadi keputusan BI untuk melunasi seluruh utang jika cadangan devisa cukup. Dan hari ini saatnya,'' kata Hartadi.

Cadangan devisa yang ada saat ini sebesar 42,3 miliar dolar AS, katanya, cukup untuk kegiatan impor selama 4,6 bulan. Sementara dari percepatan pelunasan ini, Indonesia dapat menghemat 500 ribu dolar AS.

Penghematan itu diperoleh karena sampai akhir tahun 2006, Indonesia semestinya membayar bunga utang 22 juta dolar AS. Namun karena dipercepat, maka Indonesia hanya perlu menyetor bunga 21,5 juta dolar AS. Ditemui di DPR, Menkeu, Sri Mulyani, menyambut baik langkah BI itu, baik dari sisi waktu maupun jumlah yang dilunasi. ''Dalam hal keseimbangan antara arus modal yang masuk ke Indonesia dan cadangan devisa, dan kebutuhan dari sisi pembiayaan, saya kira semuanya sudah dipertimbangkan oleh BI,'' kata Sri Mulyani.

Namun, percepatan pelunasan itu tidak mengubah status keanggotaan Indonesia di IMF. ''Karena ini pembelian kembali istilahnya, dan itu tidak memengaruhi status keanggotaan.'' Sementara anggota Komisi XI DPR, Dradjad Wibowo, berharap dengan dilunasinya utang ke IMF, diikuti pula dengan tidak lagi mengikuti agenda-agenda IMF. ''Kebijakan ekonomi harus mampu menjadikan bangsa Indonesia tuan di negeri sendiri,'' katanya.

Bersama dengan anggota IMF lain dari kelompok negara berkembang, Indonesia disarankan menggalang kekuatan untuk mendorong demokratisasi di tubuh IMF. Mereka harus berjuang menggeser resep-resep neoklasik dan neoliberal IMF menjadi paradigma proekonomi pembangunan dan akomodatif terhadap kepentingan negara berkembang. ''Keberhasilan ekonomi negara-negara seperti Malaysia yang menolak resep IMF, Korea Selatan serta Rusia yang menerapkan resep IMF seperlunya saja, harus jadi cotoh,'' katanya. evy

Latar

Pada 30 Juni 2006, BI melunasi utang ke IMF sebesar 2,549 miliar Special Drawing Rights (SDR) atau setara 3,763 miliar dolar AS, separuh dari total utang Indonesia ke IMF.

Total utang RI ke IMF adalah 5,131 miliar SDR atau setara 7,51 miliar dolar AS.

Tuesday, October 03, 2006

untitled




My dear,
Did I threat you bad?
Did I make you sad?
Did I drive you mad?

Tuesday, September 26, 2006

My Own Version

Madrid? That's nice.
Yeah, I got one of those Eurail passes, is what I did.
That's great. So, has this trip, around Europe, been good for you?
Yeah, sure, yeah, it's been, umm...it sucked. You know...
Hahaha... What?
No, uh, it's had its, umm. Well, I'll tell ya, you know, sitting, you know, for weeks on end, looking out the window has actually been kinda great.
What do you mean?
Well, you know, for instance, you have ideas that you ordinarily wouldn't have.
What kind of ideas?
You want to hear one?
Yeah, tell me.
Alright, uh, I had this idea, okay?
Um-hmm...
For a television show. Some friends of mine are these cable access producers, do you know what that is, cable access? Umm, I dunno...Anybody can produce a show real cheap, and they have to put it on. Right? And I have this idea for this show that would last twenty-four hours a day for a year straight, right? What you do, is you get three hundred and sixty-four people from cities all over the world, to do these twenty-four hour documents of real time, right, capturing life as it‘s lived. Um, you know, it would start with uh, a guy waking up in the morning, and, uh, you know, taking the long shower, eating a little breakfast, making a little coffee, you know, and, uh, reading the paper.
Wait, wait. All those mundane, boring things everybody has to do every day of their fucking life?
I was going to say the poetry of day to day life, but you know, you say the way you say it, I'll say it the way I say it...
Hahaha... I like that.
No listen, think about it like this...
Who's gonna want to watch this?
Well, alright, think about it like this. Why is it, that a dog, you know, sleeping in the sun, is so beautiful? You know, it is, it‘s beautiful, you know, but a guy, standing at a bank machine, trying to take some money out, looks like a complete moron?
So, it‘s like a National Geographic program, but on people?

Yeah!

There's a wind that blows in from the north,
And it says that loving takes its course.
Come here.
Come here.

No I'm not impossible to touch,
I have never wanted you so much.
Come here.
Come here.

If I never lay down by your side?
Baby, let's forget about this pride.
Come here.
Come here.

Well, I'm in no hurry.
You don't have to run away this time.
I know that you're timid.
But it's gonna be all right this time
. (kath Bloom)

Daydream delusion.
Limousine Eyelash.
Oh, baby with your pretty face
Drop a tear in my wineglass.
Look at those big eyes
See what you mean to me.
Sweet cakes and milkshakes.
I am a delusioned angel.
I am a fantasy parade.
I want you to know what I think
Don't want you to guess anymore.
You have no idea where I came from.
We have no idea where we're going
Launched in life
Like branches in the river.
Flowing downstream
Caught in the current.
I'll carry you. You'll carry me.
That's how it could be.
Don't you know me?

Don't you know me by now?

****************************
Is it the end or just a beginning?
who knows
Nobody knows

Sunday, September 10, 2006

I do fly. Do you fly?

Terlalu sulit buatku untuk tidak terus-terusan mensyukuri semua yang aku miliki.
Apa adanya.

Kenapa?

Karena ada banyak cerita yang aku dapat dari orang-orang sekitarku.

*Mungkin juga mereka terlalu banyak bercerita tentang hal-hal yang tidak menyenangkan*
Pekerjaan yang membosankan
Bos yang amit-amit
Suami/istri/pacar yang kurang pengertian
Anak bandel

Orangtua/Mertua yang terlalu ikut campur
Menantu kurang sesuai harapan
Uang belanja
Nggak punya waktu buat diri sendiri
Saudara ipar, pembantu, tulang punggung keluarga... you name it!

Kalau akhir-akhir ini, juga gara-gara habis nonton turtles can fly (thanks to Memei!)

Bukan aku nggak ada masalah
Bukan semua mauku berjalan sesuai harapan
Tetapi semua itu jauh...jauh...jauh...banget dibanding semua kemudahan yang kudapat
Hmmm...what a lucky me
Alhamdulillaah....
Alhamdulillaah....
Alhamdulillaah....

Thursday, August 31, 2006

Norak nggak sih?

Salah satu hal norak yang aku punya adalah takut menyeberang lewat jembatan penyeberangan.
Kalo jembatannya dari beton sih berani.
Kalo jembatannya bukan dari beton tapi masih baru seperti di halte bus way sih, masih berani.
Bukan jembatan di halte busway tapi kiri-kanan sepanjang lorong jembatan ditutup sih, masih lumayan berani.
Tapi kebanyakan jembatan yang ada di sini terbuat dari besi, kiri-kanan nggak ditutup, udah keropos atau kalau nggak keropos, yang tak kalah menyeramkan adalah jembatannya tinggi banget (seperti jembatan di UI dan Pancasila).
Bukan apa-apa, cuma rasanya gampang banget jatuh ke bawah. Kebentok beton, disambut kendaraan lewat...iiiihhhh! Naudzubillaah....
Kalau bisa menghindar, biar agak muter dikit nggak apa-apa deh!
Dan ternyata itu bukan cuma kekuatiranku saja, baca ini, ini dan ini

Jadi bisa nggak sih, jembatan-jembatan tua itu diperbaiki?
Kalau bisa, ganti semua jadi jembatan beton semua. Biar aman dan awet. Gimana, Pak?

photo dari sini

Wednesday, August 16, 2006

the first ever World Map of Happiness

Terbawa suasana merah putih di mana-mana.

Posting ini tentang survey yang dilakukan University of Leicester yang mengklaim sudah membuat the first ever World Map of Happiness.
Survey ini dilakukan Adrian White, seorang analytic social psychologist. Responden dari berbagai bidang ilmu diberi pertanyaan yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kepuasan hidup mereka, diberikan pada sekitar 80.000 orang di seluruh dunia. Data studi juga dianalisis dalam hubungannya terhadap kesehatan, kesejahteraan dan akses terhadap pendidikan.

Hasilnya the 20 happiest nations in the World are:

1 - Denmark

2 - Switzerland

3 - Austria

4 - Iceland

5 - The Bahamas

6 - Finland

7 - Sweden

8 - Bhutan

9 - Brunei

10 - Canada

11 - Ireland

12 - Luxembourg

13 - Costa Rica

14 - Malta

15 - The Netherlands

16 - Antigua and Barbuda

17 - Malaysia

18 - New Zealand

19 - Norway

20 - The Seychelles

Other notable results include:

23 - USA

35 - Germany

41 - UK

62 - France

82 - China

90 - Japan

125 - India

167 - Russia

The three least happy countries were:

176 - Democratic Republic of the Congo

177 - Zimbabwe

178 - Burundi

Yang jadi pertanyaan peringkat berapakah Indonesia??

Kata Gery, sih dari 178 negara, Indonesia ada di peringkat 64!! **)

Horeeee... !!!

Karena walaupun kalah jauh dari Malaysia yang masuk 20 besar *gak usah ngitung dari Brunei deh!* tapi liat aja, UK peringkat 41 dan Perancis ada di 62, nggak beda jauh ama Indonesia kan? Bahkan Jepang peringkat 90! Penasaran juga nih pingin liat data lengkapnya, pingin liat Australia ada di mana...

**) cuma sampai berita ini 'diturunkan' aku belum juga dapat sumber lengkapnya

Tuesday, July 11, 2006

Ikan dalam air


Pesta buku kali ini berlangsung antara tanggal 1-9 Juli di Istora Senayan.
Sewaktu aku datang ke sana, hari Sabtu 8 Juli, pengunjungnya cukup banyak tetapi masih memungkinkanku buat berkeliling-keliling dari satu stand ke stand yang lain.
Aku nggak menghitung tapi sepertinya tiapkali aku datang ke pesta buku, jumlah standnya semakin banyak saja. Istora Senayan mungkin sudah tidak terlalu memadai lagi untuk menampung stand sebanyak itu. Stand yang berhimpit-himpitan membuat acara melihat-lihat buku bukan jadi satu hal yang cukup nyaman untuk dilakukan (JCC udah fully booked terus ya?).


Seperti biasa, pesta buku kali inipun didominasi stand buku-buku Islami.
Banyak dan cukup menyulitkan untuk memilih mana yang benar-benar bagus dan mana yang menjual buku 'nggak jelas'. Penerbit Gramedia seperti biasa mendominasi bagian tengah Istora (dan tetap dengan pelit diskon, upsss...). Walaupun judulnya pesta buku, tetapi stand-stand yang menjual mainan anak-anak juga banyak, walaupun kebanyakan punya embel-embel mainan edukatif.

Buku-buku yang banyak dipajang sebagian besar tulisan dari Dr Aidh al Qarni; La Tahzan dan "turunannya" serta buku-buku dari penulis lain dengan tema yang mirip-mirip itu. Selain semakin banyak novel remaja Islami yang aku liat banyak dipajang.
Selain buku-buku Islam, buku yang sedang banyak dipajang adalah buku James Yee, For God & Country dan buku-buku balasan dari Da Vinci Code (Breaking the Da Vinci Code-lah...). Perfume-nya Patrick Suskind (yang ceritanya udah di-spoil sama Kompas, untungnya setelah aku selesai baca)

Aku? Cuma beli buku-bukunya Malcolm Gladwell trus nambahi koleksi buku Laura Inggals Wilder-ku. Trus, iseng beli buku anak-anak karena alasan primordial (beli di stand Ikapi Jawa Tengah yang begitu sepi). Oh ya aku juga peta Jakarta yang diobral dengan harganya Rp 2000,- Iya, semurah itu karena peta terbitan 1994/95, tapi kupikir satu saat bakal ada gunanyalah.

Terus yang bikin aku agak nyesek adalah, di sana, aku terpaksa makan siang dengan harga relatif mahal, hanya untuk nasi goreng dan lemon tea ice. Hikss... Gara-garanya makanan di fast food dengan lambang M itu udah habis dan aku nggak terlalu berani beruji coba dengan perutku untuk makan di warung tenda yang aku nggak kenal. Makanya aku pilih makan di resto yang ada dalam Istora. Lumayan nyaman dengan sofa, AC dingin dan lagu-lagu Maliq dan rasa makanan yang lumayan enak. Cuma ya itu, ternyata harganya nggak ketulungan. Padahal kayaknya, aku liat modalnya cuma microwave sama magic jar deh! Hehehe... nasib.

Satu lagi yang selalu jadi masalah tiap ke pesta buku adalah tidak adanya tempat wudlu di dekat ruang mushola, akibatnya wudlu harus dilakukan di toilet dan ngantri. Untung kemarin tidak terlalu panjang antriannya.


Tetapi tetap...

Datang ke pesta buku, aku merasa seperti ikan yang dikembalikan ke air.

Segar, kembali ke habitat.

Melihat orang-orang berbelanja buku bertumpuk-tumpuk, aku jadi berharap punya uang yang lebih...lebih...lebih banyak lagi.
Itu
satu-satunya saat aku berharap seperti itu.


*Maaf, nggak ada link-nya, lagi males n lagi nggak bawa kamera
gambar dari sini

Thursday, July 06, 2006

Twin Peaks


Kyle MacLachlan as Agent Cooper

Do you remember Twin Peaks TV series?
I do.
n how do I love agent Cooper
Here i found a Twin Peaks trivia.
  • The population of the town, according to the sign in the opening credits, is 51,201. Initially, the population was only 5,120 but ABC deemed this to be too small a number, and instead added a digit to the end, making the population inordinately high.
  • Special Agent Dale Cooper's middle name is Bartholomew.
  • The name of Dale Cooper might have been inspired by the mysterious "D.B. Cooper" who, in 1971, high-jacked an airliner leaving Seattle and jumped from the plane with $200,000 dollars strapped to his chest, never to be seen again. D.B. Cooper is re-used in Prison Break.
  • The two mountains in Twin Peaks are called Whitetail and Blue Pine.
  • The Twin Peaks High School mascot is a steeplejack (stated in Second Season, Episode 9).
  • The towns of Snoqualmie and North Bend, in Washington State, which were the primary filming locations for Twin Peaks, are only a few miles from the town of Roslyn. This town was the set of the series Northern Exposure, which was heavily influenced by Twin Peaks (including an episode which was a clear parody).
  • Snoqualmie Falls was featured in the opening titles sequence.
  • Some people objected so much to the Peakesmania that they started wearing t-shirts saying "I killed Laura Palmer".
Thanks to wikipedia